Pages

Senin, 18 Agustus 2014

PENDAKIAN GUNUNG PENANGGUGAN (MEMPERINGATI 17 AGUSTUS)

      
      kereeeen...., itu lah kata kata yang aku ekspresikan ketika sampai di puncak tertinggi gunung penanggungan. Setelah susah payah mendaki selama kurang lebih 4 jam dari pos akhir pemberhentian sepeda motor akhirnya bisa mencapai puncak. Berawal dari ideku yang melihat masih panjangnya liburan semester dan bertepatan dengan 17 agustus, aku mengajak Yanuar yang hobi naik gunung untuk mendaki gunung. Yanuar pun mengajak teman teman kami yaitu tegar, isna, erwin dan hanapi. Tanggal 16 agustus kami pun berangkat pukul 7 malam dari surabaya. membawa berbagai perlengkapan termasuk tenda. Sampai di pemberhentian motor di daerah trawas, kami pun memakirkan motor di balai desa, dan memulai pendakian. Aku yang terlalu meremahkan gunung penanggungan ini pun menerima akibatnya. 

     Banyak pelajaran yang aku ambil ketika mendaki gunung. Pelajaran pertama bawalah senter khusus pendakian yang terletak di kepala, karna kita tidak tahu medan seperti apa yang ada di depan. Dengan pendakian yang terbilang cukup curam di puncak tanpa senter sangatlah berbahaya. Pelajaran kedua pakailah sepatu atau sandal khusus gunung sehingga tidak mudah patah, rusak ataupun tergelincir. kesalahanku saat itu memakai sandal biasa dan akibatnya sandal itu rusak dan aku pun harus telanjang kaki. kebayang kan sakitnya mendaki batu2 yang akan kena kaki tanpa alas.  

         Lalu pelajaran ketiga adalah saling menyapa antar sesama pendaki. Rasa kebersamaan ketika naik gunung benar benar ada setiap kita melewati orang pastilah ada yang menyapa : monggo mas, amit mas, atau terkadang pun ada orang yang tidak dikenal menyemangati ketika kita lelah. Pelajaran keempat yaitu rasa  kesetiakawanan. ya rasa kesetiakawanan, cerintanya saat hampir sampai di puncak jalurnya agak curam. aku yang takut akan ketinggian sedikit frustasi melanjutkanya dengan kondisi sepatu cats ku yang licin. isna dan yanuar pun menyemangati ku. mereka membujuku hingga aku mau naik lagi. isna meminjamkan sepatunya untuk kupakai. dan yanuar membawakan tas ku. dan akhirnya aku mau melanjutkan. Erwin yang kelelahan sempat juga ingin menyerah. aku yang takut tetapi tenagaku masih ada, aku menawarkan untuk membawa tas milik erwin. lalu kita bertiga sama2 mencapai puncak. 


      Dan alhamdulillah sampai puncak penanggungan. Lalu kami bertiga mencari yanuar, hanapi dan tegar yang sudah duluan sampai di puncak. Rasa lelah, takut, tebayar sudah akan indahnya puncak penanggungan. Kami pun membangun tenda untuk beristirahat. 




       Pagi nya berbagai ukuran bendera merah putih berkibar di tiap sisi gunung dengan teriakan merdeka merdeka sungguh memicu semangat nasionalisme 17 agustus. Setelah itu kami pun turun gunung jam 10 siang. pengalaman yang kereeen. jadi pengen naik gunung lagi hehe tapi lain kali persiapanya harus lebih matang hehe maklum newbie. 


Sekian dulu ya ceritanya... sampai jumpa lagi di posting selanjutnya. tetap semangat kawan. Nih dibawah juga ada poto2 saat naik gunung :