Pages

Senin, 16 November 2015

TROWULAN MOJOKERTO PENINGGALAN MAJAPAHIT


Hari jumat, setelah sholat jumat dan saat itu saya sedang free dan jenuh. Terlintas di benaku untuk bepergian. Karena saat itu teman teman sedang sibuk entah itu kuliah dan lain lain, akhirnya aku berpikiran untuk jalan jalan sendiri. Berbekal browsing saya pun menemukan tempat yang sepertinya patut untuk dikunjungi.  Trowulan mojokerto yap, Kebetulan letaknya tidak jauh dari surabaya, mungkin hanya butuh perjalanan hampir dua jam dari surabaya. 

Trowulan adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Indonesia. Kecamatan ini terletak di bagian barat Kabupaten Mojokerto, berbatasan dengan wilayah Kabupaten Jombang. Trowulan terletak di jalan nasional yang menghubungkan Surabaya-Solo. Di kecamatan ini terdapat puluhan situs seluas hampir 100 kilometer persegi berupa bangunan, temuan arca, gerabah, dan pemakaman peninggalan Kerajaan Majapahit. Diduga kuat, pusat kerajaan berada di wilayah ini yang ditulis oleh Mpu Prapanca dalam kitab Kakawin Nagarakretagama dan dalam sebuah sumber Cina dari abad ke-15.  


 

Berbekal GPS saya bepergian sendirian , karena penasaran dengan kota yang dulunya adalah pusat dari kerajaan majapahhit ini. Yap tak jarang saya tersesat, seperti poto diatas adalah poto saat saya tersesat. Tapi gak papalah karena pemandanganya cukup bagus jadi saya poto saja. :D.


Naik motor revo ku, berkeliling kesana kemari tanpa tujuan.Yah sialnya lagi gps lagi eror, dan waktu sudah hampir sore. Saya pun hampir putus asa menemukan tempat tempat sejarah itu. Tapi beruntunglah aku saat mau pulang aku menemukan tulisan patung budha tidur. apa ya itu?? lagsung saja aku kesana.


Sebenarnya Tiket masuk Budha Tidur Maha vihara bagi wisatawan lokal sebesar Rp 5.000/orang, tapi dikarenakan saya datang dalam menit-menit penutupan kami tidak membayar tiket masuk (inilah yang kami demen), selain dapat menyaksikan Budha Tidur Maha vihara ada juga beberapa patung budha lainnya di kawasan kompleks objek wisata Trowulan ini seperti patung budha berwajah 4 atau yang lebih dikenal dengan sebutan Budha Four Face serta miniatur dari Candi Borobuddur.


Menurut orang ini adalah patung sleeping budha terbesar di Indonesia dan menempati urutan ketiga setelah patung sejenis yang berada di negara Thailand dan Nepal, karena saya sendiri belum pernah pergi ke negara tersebut untuk membandingkannya, dan hanya pernah berkunjung ke Trowulan saja. Sleeping budha statue disini ukurannya sendiri mencapai 22 meter untuk panjangnya, lebar 6 meter dan tinggi 4,5 meter berwarna keemasan, yang dibawahnya ada kolam kecil berisi ikan yang mengelilinginya.
Selain patung sleeping budha juga ada miniatur candi Borobudur disini dan patung budha dengan posisi dan pose lainnya, semisal berdiri, duduk dan sebagainya, juga ada relief di tembok sebelah belakang dari bangunan vihara yang menceritakan kehidupan sang budha.


Lalu akupun melanjutkan perjalanan, dan di tepi jalan aku melihat candi Di desa Bejijong terdapat Candi Brahu. Candi ini merupakan satu-satunya bangunan suci tersisa yang masih cukup utuh dari kelompok bangunan-bangunan suci yang pernah berdiri di kawasan ini. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, di candi inilah tempat diselenggarakan upacara kremasi (pembakaran jenazah) empat raja pertama Majapahit. Meskipun dugaan ini sulit dibuktikan, namun bukti fisik menunjukkan bangunan ini merupakan bangunan suci peribadatan yang diduga adalah bangunan suci untuk memuliakan anggota keluarga kerajaan yang telah wafat. Mengenai siapakah tokoh atau raja Majapahit yang dimuliakan di candi ini masih belum jelas.


Candi Brahu dibangun dengan batu bata merah, menghadap ke arah barat dan berukuran panjang sekitar 22,5 m, dengan lebar 18 m, dan berketinggian 20 meter.
Candi Brahu dibangun dengan gaya dan kultur Budha. Diperkirakan, candi ini didirikan pada abad ke-15 Masehi meskipun masih terdapat perbedaan pendapat mengenai hal ini. Ada yang mengatakan bahwa candi ini berusia jauh lebih tua daripada candi-candi lain di sekitar Trowulan.
Dalam prasasti yang ditulis Mpu Sendok bertanggal 9 September 939 (861 Saka), Candi Brahu disebut merupakan tempat pembakaran (krematorium) jenazah raja-raja. Akan tetapi, dalam penelitian tak ada satu pakar pun yang berhasil menemukan bekas abu mayat dalam bilik candi. Hal ini diverifikasi setelah dilakukan pemugaran candi pada tahun 1990 hingga 1995.